bengong

June 29, 2006

Bebas dari Jerat Waktu

Tanpa meditasi, tidak ada pengetahuan diri; tanpa pengetahuan diri, tidak ada meditasi. Jadi Anda harus mulai mengetahui apa diri Anda. Anda tidak bisa pergi jauh tanpa mulai dari yang dekat, tanpa memahami proses sehari-hari dari pikiran, perasaan dan tindakan Anda. Dengan kata lain, pikiran harus memahami liku-likunya sendiri, dan apabila Anda melihat diri Anda sendiri bekerja, Anda akan mengamati bahwa pikiran bergerak dari yang diketahui menuju yang diketahui. Anda tidak bisa memikirkan apa yang tak diketahui. Apa yang Anda ketahui tidak nyata, karena apa yang Anda ketahui hanya berada di dalam waktu. Untuk bebas dari jerat waktu adalah masalah yang penting, bukan berpikir tentang apa yang tak diketahui, oleh karena Anda tidak dapat memikirkan yang tak diketahui. Untuk menerima yang tak diketahui, batin itu sendiri harus menjadi yang tak diketahui. Batin adalah hasil dari proses pikiran, hasil dari waktu, dan proses pikiran itu sendiri harus berakhir. Batin tidak dapat berpikir tentang yang abadi, yang di luar waktu [timeless]; oleh karena itu batin harus bebas dari waktu, proses waktu dari batin harus luluh. Hanya apabila batin sama sekali bebas dari hari kemarin, dan dengan demikian tidak menggunakan masa kini untuk menjangkau ke masa depan, baru dia mampu menerima apa yang abadi. … Dengan demikian, masalah kita dalam meditasi adalah untuk mengenal diri sendiri, tidak hanya secara dangkal, melainkan seluruh isi kesadaran-dalam yang tersembunyi. Tanpa memahami semua itu dan bebas dari pengkondisiannya, Anda tidak mungkin melangkah keluar dari keterbatasan batin. Itulah sebabnya proses pikiran harus berhenti; untuk berhenti harus ada pengenalan diri. Oleh karena itu meditasi adalah awal dari kearifan, yang adalah memahami pikiran dan hati kita sendiri.

March 22, 2006

Bebas dari Ketakutan

Mungkinkah bagi batin untuk mengosongkan dirinya sama sekali dari ketakutan? Ketakutan macam apa pun menghasilkan ilusi; ketakutan membuat batin tumpul, dangkal. Bila terdapat ketakutan, jelas tidak ada kebebasan, dan tanpa kebebasan tidak ada cinta sama sekali. Dan kebanyakan dari kita mempunyai salah satu bentuk ketakutan; takut akan kegelapan, takut akan opini masyarakat, takut akan ular, takut akan nyeri tubuh, takut akan hari tua, takut akan kematian. Kita punya lusinan ketakutan. Dan mungkinkah untuk bebas sama sekali dari ketakutan?
Kita bisa melihat apa yang dilakukan ketakutan terhadap masing-masing dari kita. Ketakutan membuat kita berbohong; ketakutan merusak kita dalam berbagai hal; ketakutan membuat batin tumpul, dangkal. Ada sudut-sudut gelap dalam batin yang tidak boleh diselidiki dan diungkapkan selama kita takut. Melindungi-diri secara fisik, dorongan instinktif untuk menjauh dari ular berbisa, untuk mundur dari tepi jurang, untuk mencegah agar tidak terpeleset di depan trem listrik, dan sebagainya, adalah waras, normal, sehat. Tetapi saya mempertanyakan tentang melindungi-diri secara psikologis, yang membuat orang takut akan penyakit, akan kematian, akan musuh. Bila kita mencari pemenuhan dalam bentuk apa pun, entah dengan melukis, melalui musik, melalui hubungan, atau apa pun keinginan Anda, selalu ada ketakutan. Jadi, yang penting adalah sadar akan seluruh proses diri ini, mengamati, mempelajarinya, dan bukan bertanya bagaimana cara melenyapkan ketakutan. Bila Anda hanya sekadar ingin melenyapkan ketakutan, Anda akan menemukan cara-cara melarikan diri darinya, dan dengan demikian tidak pernah ada kebebasan dari ketakutan.

March 6, 2006

Kebahagiaan bukan perasaan (sensation)

Pikiran tidak pernah menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan bukan sesuatu untuk dikejar dan ditemukan, seperti perasaan (sensation). Perasaan dapat diperoleh berkali-kali, karena setiap kali perasaan selalu lenyap; tetapi kebahagiaan tidak bisa ditemukan. Ingatan akan kebahagiaan hanyalah perasaan, suatu reaksi yang memihak atau menentang saat kini. Yang sudah lenyap bukanlah kebahagiaan; pengalaman akan kebahagiaan yang sudah lenyap adalah perasaan, oleh karena ingatan adalah masa lampau, dan masa lampau adalah perasaan. Kebahagiaan bukan perasaan. (more…)

Kebahagiaan tidak bisa dikejar

Apa yang Anda maksud dengan kebahagiaan? Sementara orang berkata, kebahagiaan adalah memperoleh apa yang Anda inginkan. Anda menginginkan sebuah mobil, Anda memperolehnya, dan Anda berbahagia. Saya menginginkan sebuah pakaian, saya ingin pergi ke Eropa, dan jika saya bisa, saya berbahagia. Saya ingin menjadi politisi terbesar, dan jika saya bisa, saya berbahagia; jika saya tidak bisa mencapainya, saya tidak berbahagia. Jadi, yang Anda namakan kebahagiaan adalah memperoleh apa yang Anda inginkan, pencapaian atau kesuksesan, menjadi mulia, memperoleh apa pun yang Anda inginkan.. (more…)

March 4, 2006

Di Atas Kepercayaan

Kita menyadari bahwa kehidupan ini buruk, menyakitkan, menyedihkan; kita menginginkan suatu teori, suatu spekulasi atau kepuasan, suatu doktrin, yang akan menjelaskan semua ini, dan dengan demikian kita terperangkap di dalam penjelasan, di dalam kata-kata, di dalam teori, dan berangsur-angsur kepercayaan tertanam kokoh dan tak tergoyahkan, oleh karena di balik kepercayaan itu, di balik dogma itu, terdapat ketakutan yang menetap terhadap apa yang tak diketahui. Tetapi kita tidak pernah memandang ketakutan itu sendiri; kita berpaling darinya. Makin kuat kepercayaan, makin kuat pula dogmanya. Dan jika kita meneliti kepercayaan ini — Kristen, Hindu, Buddhis — kita melihat bahwa kepercayaan-kepercayaan itu memecah-belah manusia. Setiap dogma, setiap kepercayaan, memiliki serangkaian ritual, serangkaian kewajiban yang mengikat manusia dan memisahkan manusia. Jadi, kita mulai dengan menyelidik untuk menemukan apa yang benar, apa makna kesengsaraan ini, pergulatan ini, kesakitan ini; dan dengan segera kita terperangkap di dalam kepercayaan, di dalam ritual, di dalam teori. (more…)

Pola suatu ide

Jika Anda berkata, “Bagaimana saya bisa menghemat energi?”, maka Anda telah menciptakan suatu pola ide–bagaimana menghemat energi—lalu menjalankan hidup Anda menurut pola itu; dengan demikian, mulai lagi suatu kontradiksi. Sedangkan, jika Anda melihat sendiri tempat-tempat di mana energi itu diboroskan, Anda akan melihat bahwa kekuatan utama yang menyebabkan pemborosan itu adalah konflik–yang berarti memiliki masalah dan tidak pernah menyelesaikannya, hidup dengan ingatan berbahaya tentang sesuatu yang sudah tidak ada, hidup dalam tradisi. Kita harus memahami hal-ihwal pemborosan energi, dan pemahaman akan pemborosan energi ini bukan menurut Shankara, Buddha, atau orang suci lain, melainkan pengamatan aktual terhadap konflik sehari-hari dalam hidup kita. Jadi pemborosan energi yang terutama adalah konflik–yang bukan berarti lalu Anda duduk dan bermalas-malas. Konflik akan selalu ada selama ide lebih penting daripada fakta.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M