meditasi
[Berikut ini naskah ceramah yang akan disajikan di depan para mahasiswa ITB di Aula ITB pada hari Minggu tgl 20 November 2005 pk 12:30.]
Meditasi Untuk Memahami Diri
Dan Kemandirian Jiwa Menuju Makna Sejati
Oleh: Dr. Hudoyo Hupudio, M.P.H.
(1) Kata kunci dari judul ceramah yang ditetapkan oleh Panitia di atas terletak pada ungkapan “memahami diri”. Bagaimana kita biasanya memahami diri kita?
Kita biasanya mencoba memahami diri kita dengan menggunakan pikiran untuk mengkaji kembali segala pikiran, perasaan, keinginan, harapan, kekecewaan, kehendak, keputusasaan, dsb, yang kita alami di masa lampau. Upaya seperti itu, yang termasuk bidang kajian disiplin psikologi, disebut introspeksi yang bersifat retrospektif (menengok ke belakang).
Kalau pun upaya seperti itu menghasilkan perubahan dalam batin kita, perubahan itu tidak pernah tuntas. Lagi pula, upaya seperti itu tidak bisa memberikan pencerahan mengenai hakekat diri kita sesungguhnya. Mengapa? Karena alat yang digunakan, yakni pikiran (penalaran, rasionalitas), selalu terbatas dan terkondisi (conditioned). Ia tidak bisa melihat dirinya bebas dari keterkondisian oleh masa lampau.
(2) Sifat dasar dari pikiran sehari-hari ialah bersifat dualistik, yang pada dasarnya merupakan sumber dari semua konflik yang kita alami dalam diri kita. Ada dua buah dualitas yang paling dasar, yakni:
(a) dualitas antara ‘aku’ dan ‘bukan aku’ (dualitas antara ‘subyek’ dan ‘obyek’);
(b) dualitas antara ‘saat kini’ dan ‘masa depan’.
Kedua jenis dualitas ini memang fundamental dan esensial, karena bertujuan untuk melestarikan diri (survival). Pikiran atau intelek ber-evolusi dalam batin spesies manusia ini dengan tujuan meningkatkan peluang untuk survive, karena manusia adalah hewan yang fisiknya lemah dibandingkan dengan binatang buas yang ada. Hewan-hewan lainnya selain manusia tidak ber-evolusi mengembangkan pikiran; mereka survive dengan menggunakan instinknya. Manusia juga mempunyai instink, tetapi instink manusia dikendalikan oleh egonya; ego ini berkembang bersama pikiran/intelek.
Namun, setelah menekankan pentingnya peran pikiran/intelek secara evolusioner dan fungsional, di lain pihak perlu ditekankan pula bahwa pikiran/intelek tidak dapat ‘menangkap’ atau memahami kenyataan atau aktualitas yang sejati, yakni saat kini yang bebas dari ‘aku’, di mana kedua jenis dualitas di atas tidak ada.
Pikiran (thought) selalu berada di masa lampau, entah masa lampau yang jauh, yang dekat atau sangat dekat (baru saja terjadi). Bahkan ketika orang berpikir ke masa depan (yang belum terjadi), sesungguhnya ia berada di masa lampau; ia menggunakan data dari masa lampau untuk untuk membuat proyeksi atau rencana ke masa depan. Dengan kata lain, pikiran tidak pernah dan tidak mungkin berada pada saat kini. Untuk berada pada saat kini, pikiran harus berhenti. Di sinilah kita masuk ke dalam meditasi. Meditasi yang khusus untuk memahami diri, bukan meditasi yang bertujuan lain.
Dengan demikian, meditasi adalah cara lain untuk memahami diri, yang berbeda dengan introspeksi. Justru pemahaman yang diperoleh dari meditasi jauh lebih tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan pemahaman dari introspeksi yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan pikiran yang tidak disadari sehingga memberikan hasil yang bias. Di samping itu, pemahaman diri yang diperoleh dari meditasi bersifat transformatif (mengubah), oleh karena pemahaman itu melibatkan seluruh aspek diri (kognitif, afektif, volisional dsb). Di lain pihak, pemahaman melalui introspeksi kebanyakan hanya bersifat kognitif saja, sehingga biasanya tidak banyak perubahan yang terjadi.
(3) Saat kini adalah satu-satunya yang nyata, yang aktual. Masa depan belum tiba, dan masa lampau hanya ada di dalam pikiran. Berbeda dari apa yang dibayangkan oleh pikiran, keabadian (eternity) bukan terletak di masa depan, melainkan justru terletak di saat kini. Bila orang berada sepenuhnya di saat kini, pikirannya tidak bergerakdengan kata lain ia tidak berada di masa lampau dan masa depanmaka ia berada dalam keabadian, ia berada dalam keadaan ‘tanpa-waktu’ (timeless). Kesadaran seperti itu dapat dicapai di dalam meditasi, baik meditasi ketenangan (samatha-bhavana) maupun meditasi pencerahan (vipassana-bhavana). (Dalam samatha-bhavana kesadaran ‘tanpa-aku’ dan ‘tanpa-waktu’ itu bersifat terkondisi dan sementara, sedangkan melalui vipassana-bhavana dapat dicapai kesadaran itu secara menetap.) Menurut hemat penulis, inilah yang dimaksud dengan ‘pikiran murni’ atau ‘batin murni’.
Yang perlu ditekankan di sini ialah bahwa ‘pikiran murni’ tidak menegasikan ‘pikiran sehari-hari’. ‘Pikiran sehari-hari’ perlu untuk hidup sehari-hari, sedangkan ‘pikiran murni’ melihat ‘apa adanya’ (yathabhutam nyanadassanam) tanpa dipengaruhi oleh keterkondisian pikiran dan harapan-harapan si ‘aku’; dengan kata lain, ‘pikiran murni’ melihat kenyataan yang sejati, kenyataan apa adanya.
(4) Dengan mengembangkan kesadaran atas saat kini, maka pemeditasi akan memahami makna harapan, kekecewaan, kepuasan, keputusasaan, dsb, yang semuanya tidak terlepas angan-angan ke masa depan. Dengan demikian, berangsur-angsur ia tidak akan dicengkeram berbagai emosi yang sering kali menimbulkan konflik, kegelisahan atau penderitaan. Berangsur-angsur orang yang memahami dirinya akan mengalami pembebasan dari segala pikiran, keinginan, ketidaksenangan yang biasanya memenuhi batinnya. Pembebasan yang terakhir dan sempurna disebut nibbana (nirvana), yang berarti “padam”, yakni padamnya aku/ego dalam batin kita.
(5) Sampai di sini, mungkin timbul pertanyaan, apakah ada manfaat vipassana-bhavana bagi seorang anak muda, bagi seorang mahasiswa, atau bagi seorang pengusaha muda, yang penuh dengan harapan kesuksesan justru dengan mengembangkan diri yang kompetitif? Apakah bagi seorang anak muda, padamnya ego/aku tidak membuatnya menjadi orang yang tidak mempunyai inisiatif, tidak mempunyai semangat hidup, dan dengan demikian akan kalah dalam persaingan hidup di dunia modern? Pertanyaan ini sering diajukan kepada saya.
Dalam diri seorang pemeditasi vipassana, ego/aku itu tidak akan pernah padam sebelum waktunya, sebelum syarat-syaratnya terpenuhi, artinya selama ia masih mempunyai keinginan di dunia ini seberapa pun halusnya. Sebaliknya, kalau sudah tiba waktunya, pertanyaan-pertanyaan di atas tidak relevan lagi bagi orang seperti itu. Jadi tidak perlu khawatir.
Justru sebaliknya, dengan meditasi vipassana yang dilakukannya dengan teratur setiap hari, akan berkembang batin yang relatif bebas dari konflik dan ketegangan; batin seperti itu akan sangat membantu dalam memecahkan masalah sehari-hari, dan dalam meraih kehidupan yang relatif tenteram dan berbahagia, dibandingkan dengan orang yang tidak pernah bermeditasi sama sekali.
(6) Terakhir yang ingin penulis tekankan–khususnya bagi umat Buddhia dipandang dari soteriologi (pandangan tentang keselamatan) Buddhis–ialah pesan para guru vipassana pada umumnya, agar kita berupaya untuk mencapai setidak-tidaknya tingkat kesucian Sotapanna dalam kehidupan ini juga.
Banyak umat Buddha berpendapat bahwa mencapai tingkat kesucian Sotapanna adalah hal yang amat sukar. Bukanlah maksud para guru vipassana itu untuk mengatakan bahwa hal itu mudah; hendaknya kita tidak mengambil kesimpulan, bahwa mencapai tingkat Sotapanna itu mudah atau sukar.
Demikian pula, tidak ada yang lebih keliru dari mengatakan bahwa tingkat Sotapanna itu hanya bisa dicapai oleh para bhikkhu dan mustahil dicapai oleh seorang awam.
Yang perlu disadari ialah, bahwa hanya dengan mencapai tingkat Sotapanna kita akan terjamin tidak akan merosot lagi ke alam-alam yang sengsara, dan mau tidak mau akan mencapai pembebasan terakhir (nibbana) dalam sebanyak-banyaknya tujuh kehidupan lagi. Di lain pihak, seorang Sotapanna tidak harus meninggalkan kehidupan keluarga dan bermasyarakat; seorang Sotapanna masih mempunyai nafsu seksual, sehingga bisa mempunyai dan membesarkan anak.
Tetapi, memang tidak ada orang lain–bahkan tulisan ini pun tidak–yang dapat mendorong orang untuk mulai memalingkan perhatian kepada pembebasan dan mulai berupaya mencapai tingkat kesucian Sotapanna, kecuali orang itu sendiri mulai merasa jenuh dengan segala sesuatu yang dialami sehari-hari yang sebelumnya begitu menggiurkan dan menyenangkan.
(7) Sebagai kesimpulan: meditasi untuk memahami diri merupakan genre tersendiri di antara sekian banyak jenis meditasi yang kita kenal di pasaran, masing-masing dengan tujuan dan metode yang berbeda. Meditasi ini hanya menarik bagi orang yang ingin memahami dirinya; dan keinginan demikian biasanya dimotivasi oleh keinsyafan bahwa sumber dari segala konflik sesungguhnya berada di dalam batin sendiri.
Orang yang benar-benar memahami dirinya akan bebas dari ketergantungan pada apa pun–dengan kata lain, jiwanya akan mandiri–karena ketergantungan pada dasarnya adalah konflik.
Orang yang benar-benar memahami dirinya akan memahami pula makna sejati dari kehidupannya, makna yang bukan diberikan oleh aku & pikirannya yang terkondisi, melainkan makna yang muncul ketika aku & pikiran ini diam/hening dan ia melihat apa adanya, yang jauh mengatasi semua yang dapat dijangkau oleh pikirannya.
